Wednesday, May 7, 2014

JK: Ada Imbas Krisis di 2008, Tapi Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Tetap Bagus

Jakarta - Mantan Wapres Jusuf Kalla bersaksi di PN Tipikor Jakarta dalam persidangan kasus Bank Century. Pria yang akrab disapa JK ini mengakui ada imbas krisis Amerika Serikat di Indonesia, namun tidak begitu berpengaruh terhadap perekonomian di tanah air.

"Pada 2007-2008 ada krisis keuangan di Amerika yang membuat daya beli mereka menurun. Terjadi imbas kedua di Indonesia, karena daya beli AS turun," ujar JK di PN Tipikor Jakarta, Jl Rasuna Said, Jaksel, Kamis (8/6/2014).

JK menuturkan, ada pengaruh dalam nilai kurs rupiah. Juga di sektor-sektor lain. Namun dia memastikan, krisis yang terjadi tidak sebesar jika dibandingkan dengan krisis 98.

"Tapi saya dilapori bahwa APBN tetap bagus, kredit bagus, investasi bagus, pertumbuhan ekonomi tetap terjadi enam persen," ujar JK.

JK juga membandingkan, pada krisis 1998, terjadi moral hazard di Indonesia. Sedangkan, pada 2008, menurutnya itu tidak sampai terjadi.

"Kalau 2008, mungkin moral hazard kecil, dan itu hanya di sedikit tempat saja," ujar JK.

Tuesday, April 29, 2014

DPR Rajin Bolos karena Rakyat Salah Pilih

JAKARTA - Fenomena kursi kosong saat rapat paripurna DPR jelang berakhirnya masa bakti anggota DPR 2009-2014 bukanlah hal yang aneh. Minimnya kehadiran anggota dewan menyebabkan berbagai keputusan penting yang akan divoting pada rapat paripurna menjadi batal.

Padahal, subtansi yang divoting sangat penting bagi rakyat dan negara. Sementara, bagi anggota dewan yang terpilih kembali di Pemilu 2014, masalah kehadiran menjadi penting demi eksistensi diri ke media.

Tetapi bagi anggota dewan yang "gagal" masuk kembali karena kalah di pemilu kemarin, menghadiri rapat-rapat di DPR menjadi bukan keharusan lagi. Meski demikian, tokoh yang langganan masuk Senayan pun juga kerap ogah-ogahan hadir dalam rapat penting DPR.

Pengamat komunikasi politik, Ari Junaedi, menilai tabiat mengosongkan kursi di saat rapat paripurna DPR yang sangat penting tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan menjadi "virus" Senayan yang membahayakan. Anggota DPR selalu mempertontonkan sebagai orang yang tidak memegang amanah yang telah diberikan pemilih.

"Sebaiknya rakyat tidak boleh melupakan anggota DPR yang pembolos ulung. Tetapi herannya, pembolos-pembolos juga terpilih kembali karena pemilihnya juga terlena dengan guyuran materi di saat kampanye. Jangan lagi pilih anggota DPR seperti itu, yang terbukti gagal mendidik dirinya sendiri," jelas Ari kepada Okezone, Rabu (30/4/2014).

"Pemilu yang datang seharusnya menjadi arena pengadilan namun sayangnya pemilih terlalu pragmatis juga dalam meilih calonnya. Pilihan sudah menjadi bubur, dan kita dipaksa menelan bubur yang tidak enak rasanya," imbuhnya.

Menurut pengajar Program Pascasarjana di Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini, unsur malu sudah lama "hilang" di jiwa anggota dewan yang kerap bolos di sidang-sidang penting DPR. Inilah wajah anggota parlemen yang menjadikan anggota DPR sebagai profesi, bukan sebagai panggilan jiwa.

"Alih-alih panggilan jiwa atau mengabdi kepada rakyat. Yang dipikiirkan ketika terpilih kembali menjadi anggota DPR adalah bagaimana cara mengembalikan dana yang habis-habisan dipakai ketika kampanye. Karena fokus mengerjakan pekerjaan lain yang lebih menghasilkan duit, rapat di DPR menjadi tidak penting lagi. Menjadi anggota DPR adalah simbol status sekaligus pembeda kelas dengan rakyat jelata seperti kita-kita ini," jelas dia.

Seharusnya, publik menyesali karena telah memilih sosok yang tidak tepat untuk mewakilinya di gedung parlemen.

"Harusnya kita menyesali dengan pilihan kita yang salah. Ada anekdot di kalangan dosen sekarang ini. Perlakukan mahasiswa yang bernilai 'A' di semua mata kuliah dengan biasa-biasa saja karena nantinya mahasiswa itu akan menjadi rekan sejawat alias menjadi dosen juga. Perlakukan dengan baik untuk mahasiswa yang bernilai 'B' atau 'C' karena nantinya mahasiswa ini besar kemungkinan menjadi menteri atau direktur BUMN," kata dia.

"Tetapi istimewakan mahasiswa yang memiliki nilai 'D' di hampir semua mata kuliah yang diambilnya, karena bisa jadi kelak menjadi anggota Dewan. Inikah semacam tuduhan sarkasme dari masyarakat yang muak dengan anggota parlemen," pungkas peraih penghargaan World Customs Organization Sertificate of Merit 2014 ini.

Monday, April 28, 2014

Kiki, Kawan Sekontrakan Afrischa Menghilang Pasca Temannya Digelandang Polisi

Jakarta - Salah satu tersangka kejahatan seksual di TK Jakarta International School (JIS), Afrischa alias Icha diketahui tinggal bersama dengan rekan perempuannya. Pemilik kontrakan di mana Icha tinggal mengenal kawan Icha bernama Kiki.

"Sejak Icha didatangi polisi. Kiki sudah nggak pernah keliatan lagi. Ya mungkin dia takut terlibat karena dia kan selama ini orang terdekatnya (Icha)," kata Zikri, adik dari pemilik kontrakan yang ditempati Afrischa, saat ditemui detikcom, Senin (28/4/2014).

Kontrakan itu berada di Jl Sengon RT 01/03 no 16 Cinere, Depok. Pemilik kontrakan hanya tahu Icha bekerja sebagai cleaning service di sebuah sekolah.

Selain itu, Zikri juga tidak tahu menahu kemana perginya, Kiki, teman sekontrakan Icha. Zikri hanya tahu, pagi tadi seseorang yang mengaku adik Icha mengemasi barang-barang dan pergi meninggalkan kontrakan.

"Tadi pagi ya sekitar jam 09.00 WIB. Cowok yang ngaku adiknya Icha bawa barang-barang terus katanya ke Pondok Cabe, nggak tahu bener atau nggak," kata Zikri.

Sementara itu, menurut Zikri, kawan sekamar Icha yang bernama Kiki itu tidak diketahui berada di mana sekarang ini. Zikri juga tidak tahu pasti Kiki bekerja di mana.

Friday, April 25, 2014

Pria 'sakti' di Pasar Senen bernama Rajes Kumar asal Medan

MERDEKA.COM. Namanya Rajes Kumar. Ia tiba-tiba menyedot perhatian dengan aksi yang dilakukannya di Pasar Senen. Pria asal Medan itu mencoba memadamkan api yang tengah membakar Blok III Pasar Senen, Jakarta Pusat.

"Saya berusaha mendatangkan hujan dengan izin Allah. Semoga hujan turun," kata Rajes di Pasar Senen, Jumat (25/4).

Ia mengaku tak sengaja datang ke Pasar Senen. Awalnya ia cuma ingin jalan-jalan di sekitar Pasar Senen. Karena melihat kepulan asap, dengan keahliannya ia mencoba memadamkan api yang sudah membakar sejak pagi tadi.

"Ya itung-itung menolong sesama manusia. Semoga hujan turun," ujarnya.

Pertama kali, dia hanya diam sambil berjalan mendekati salah satu kios yang ludes terbakar. Segera memulai ritual dengan menunduk dan mengangkat kepala. Ritual dilanjutkan dengan azan. Meski mendapat perhatian banyak orang, namun tak terlihat ada yang berani mendekat.

Tiba-tiba asap tebal keluar dari dalam kios. Si pawang kemudian menggerak-gerakkan tangannya, menghalau asap yang mengepul keluar dari dalam bangunan. Si pawang juga membawa botol berisi air. Kemungkinan sebagai media ritualnya.

Hingga siang ini, api belum berhasil dipadamkan. Puluhan mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan mengalami kesulitan, lantaran sulitnya mendapat pasokan air.

Monday, March 31, 2014

Mitos keangkeran 2 kabupaten jadi pantangan dikunjungi presiden

Mitos memang sudah melekat sejak lama di bumi Nusantara, salah satunya di Jawa. Mitos didefinisikan sebagai cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah-kisah lama berisi penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya.

Bagi sebagian masyarakat, terutama para penuturnya, Mitos ini dianggap benar-benar terjadi. Misalnya mitos keangkeran dua kabupaten, yakni Kediri dan Bojonegoro di Jawa Timur yang menjadi pantangan presiden RI untuk dikunjungi.

Konon, mitos yang berkembang di tengah masyarakat setempat, bila presiden RI berkunjung ke dua daerah itu bakal lengser. Entah karena kebetulan atau tidak, tapi beberapa presiden yang berkunjung ke Kediri--sebelum Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)--selalu lengser.
Presiden Soekarno, BJ Habibie dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), lengser setelah tak lama berkunjung ke kota tahu itu. Bahkan sepanjang pemerintahannya selama 32 tahun, Soeharto tidak pernah menginjakkan kaki ke Kediri.

Dalam riwayat Babat Kadhiri, konon terdapat kutukan pada kerajaan Kediri tatkala terlibat dalam peperangan dengan musuh. Bunyinya, "Jika pasukan Kediri menyerang musuh di daerah lawan lebih dulu akan selalu memenangkan pertempuran, akan tetapi sebaliknya jika musuh langsung menyerang ke pusat kerajaan Kediri lebih dulu maka musuh itu akan selalu berhasil memperoleh kemenangan yang gemilang."

Barangkali karena kutukan itulah konon para presiden RI selalu menghindari untuk singgah ke kota Kediri dalam setiap perjalanan di wilayah Jawa Timur. Ada yang menafsirkan, tatkala presiden berani singgah ke Kediri, maka posisi mereka bakal mudah diserang oleh musuh atau lawan politiknya.

Namun kisah tutur masyarakat setempat mengaitkan kutukan itu dengan tempat, misalnya Simpang Lima Gumul di Kediri, yang dipercaya sebagai pusat Kerajaan Kediri. Sementara kisah lain mengaitkan mitos dengan kutukan Sungai Brantas yang menjadi tapal batas Kerajaan Kediri, yakni bila ada raja, kini disebut presiden, masuk ke Kediri melewati Sungai Berantas maka akan lengser.

Boleh percaya boleh tidak, tapi Presiden SBY pernah mendengar cerita itu, dan untuk menghormatinya memilih melewati jalan melingkat lewat Blitar sebelum ke Kediri menemui korban letusan Gunung Kelud.
"Kemarin saya mau ke Kediri, sms masuk luar biasa, Pak SBY jangan ke kediri nanti anda jatuh," kata Presiden SBY saat membuka Musyawarah Nasional FKPPI, di Caringin Bogor, 29 Oktober 2007.

Kabupaten yang memiliki mitos mirip adalah Bojonegoro. Konon, dari enam presiden di Indonesia, hanya Soekarno yang pernah menginjakkan kaki di daerah yang lekat dengan legenda Angling Dharma itu.

"Tidak ada satu presiden yang menginjakkan kakinya di sini. Tidak tahu kenapa," kata Gus Mul, salah seorang tokoh masyarakat di Bojonegoro saat berbincang dengan merdeka.com Senin lalu.

Namun, dari cerita yang dia tahu, ada mitos yang beredar di kalangan masyarakat bahwa jika presiden mampir di Bojonegoro, dia akan turun dari tahta. Sebagai seorang tokoh pemuka agama, Gus Mul mengenyampingkan mitos tersebut. "Itu hanya mitos. Kalau mau datang ya datang saja," ujar Gus Mul.

Memang belum banyak fakta mitos ini terjadi di Bojonegoro. Namun agaknya kisah tutur masyarakat setempat memang ada, misalnya orang-orang tua dulu yang menyebut pantang dalam peperangan lebih dulu menyeberangi bengawan sore (sekarang bengawan Solo). Barang siapa yang menyeberang lebih dulu pasti bakal kalah. Kisah ini terbukti dalam kisah peperangan hebat di bengawan Solo yang menewaskan Arya Penangsang alias Aryo Jipang, penguasa Kadipaten Jipang.

Arya Penangsang tewas bersama kudanya si Garak Rimang, setelah dikeroyok prajurit Sultan Pajang, Sultan Hadiwijaya alias Maskarebet atau Jaka Tingkir. Dalam cerita buku Babad Tanah Jawi yang disusun oleh W.L. Olthof di Leiden, Belanda pada 1941, untuk membunuh Arya Penangsang yang pemberang itu memang sulit karena kesaktiannya tiada tanding. Namun akhirnya Arya Penangsang mati dicacah pedang dan tombak setelah dia melanggar kutukan, yakni menyerang lebih dulu dengan menyeberang bengawan.

Thursday, March 27, 2014

Persaingan Prostitusi di Jepang, Boleh Bersenang-senang Tapi Jangan Mencium

Sebuah majalah mingguan Jepang SPA edisi 18 Maret 2014 membuat survei kepada dunia pelacuran di beberapa kota besar Jepang seperti Osaka, Tokyo dan Nagoya. Hasilnya antara lain menyebutkan masih sulitnya dunia pelacuran sejalan dengan perekonomian Jepang yang belum segar hingga saat ini.
Dunia pelacuran di Jepang masih banyak didominasi oleh dunia pijat memijat atau este atau spa plus plus plus.
Begitu kesulitan ekonomi masih membayangi Jepang saat ini sehingga harga sekali "main" sudah bisa dengan biaya 10.000 yen. Biaya ini tidak pernah terjadi 15 tahun yang lalu.
Khususnya Nagoya, majalah tersebut menemukan sedikitnya 300 toko kenyamanan seperti itu bahkan dengan kamar khusus (private room).
Dengan harga yang murah tersebut pun, ada pantangan bagi tamu yang datang. Meskipun dilayani dengan baik, baik blow job, ML atau lainnya, tidak hubungan seks, dilarang melakukan ciuman. Ini membuat lelaki tambah penasaran dan biasanya akan menambah uang dompetnya lebih besar lagi supaya bisa mencium sang gadis.
Begitu ketatnya persaingan dunia pelacuran di Jepang sehingga untuk membuat tamu semakin penasaran biasanya diiklankan, Wanita Baru dan Cantik Baru Tiba. Dengan demikian diharapkan tamu semakin banyak datang ke toko yang bersangkutan.
Di daerah lampu merah Nishi Kawaguchi di perfektur Saitama juga banyak toko yang menawarkan permainan penuh untuk seks. Tentu dengan harga yang lebih mahal. Namun toko-toko demikian juga menarik dengan nama misalnya Campus Pub, Pink Salon, dan sebagainya.
Di masa lalu toko-toko demikian sebenarnya pernah banyak digerebek oleh kalangan kepolisian tahun 2005 saat penyelenggaraan Expo 2005. Namun kini menjamur kembali.
Hal serupa akan terjadi di Tokyo mendekati tahun 2020 karena akan ada Olimpiade Tokyo dan berharap dengan semakin sedikit toko seks, citra Jepang akan tetap baik di mata kalangan orang asing yang datang ke Jepang dalam upaya melihat Olimpiade 2020 nanti.
Komplain juga muncul dari perusahaan besar yang berada biasanya dekat stasiun kereta api. Toko seks yang berani membuat papan reklame besar bahkan dengan lampu neon warna warni sehingga menarik dilihat banyak orang bahkan bisa dilihat mudah dari platform tempat tunggu kereta api di sebuah stasiun kereta di Jepang.
Akibat menterengnya toko seks tersebut, beberapa pimpinan perusahaan besar melakukan protes ke toko seks tersebut karena tidak baik bagi citra Jepang secara keseluruhan. Akibatnya kini banyak yang merubah papan reklamenya agar tidak terlalu menonjol tetapi tetap bisa dilihat oleh para tamunya.
Dunia prostitusi di Jepang ternyata masih melihat segi etika juga, mempertimbangkan dampaknya bagi lingkungan dan bagi masyarakat sekitarnya. Sehingga apabila muncul komplain demikian pun mereka ikut kerja sama untuk me "low profile" kan dirinya.
Tak heran di sana pulalah muncul keterlibatan anggota Yakuza untuk meningkatkan jumlah "penjualan" mereka dan memberikan uang proteksi (mikajimeryo) kepada para anggota Yakuza tersebut.

Sunday, March 23, 2014

Bali Zaman Dulu Banyak Wanita Bertelanjang Dada

Wanita bertelanjang dada menjadi hal biasa di Bali. Tapi itu terjadi pada keseharian masyarakat zaman dulu.
Ini terlihat pada pemutaran film 'Bali Zaman Dulu' di Studio Kearsipan, Kantor Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Denpasar.
Kegiatan nonton bersama ini diikuti sekitar 20 calon wartawan Tribun Bali (Tribunnews.com Network), Selasa (11/3/2014) pukul 13.00 Wita.
Sebelum film diputarkan, Kepala Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Denpasar, I Gusti Agung Rai Anom Suradi mewanti-wanti, agar para penonton tidak salah persepsi tentang penampilan film dokumenter Bali Zaman Dulu. Sebab, pada video tersebut banyak ditampilkan wanita bertelanjang dada.
"Jangan berpikiran pornografi, memang seperti itu Bali zaman dulu tidak ada yang dibuat-buat. Memang tidak tertutup dadanya tidak seperti saat ini," ungkap Anom Suradi.
Benar saja, penampilan wanita zaman dulu di film hitam putih itu bertelanjang dada. Tapi wajah para wanita tidak terlihat risih.
Di pasar-pasar, pura dan tempat ramai, para wanita ini terlihat biasa memamerkan dadanya. Tentu pemandangan tersebut tidak bisa ditemui pada saat ini.
Setelah film dokumenter ditampilkan, pada acara nonton bersama ini juga diputarkan film 'Sejarah Kota Denpasar' dan 'Tragedi Bom Bali I dan II'.
"Kami sangat berterima kasih sekali sudah diberikan waktu untuk menonton film di sini," ungkap Pimpinan Redaksi (Pimred) Tribun Bali, Sunarko.
Sunarko menambahkan, sebagai wartawan yang akan bekerja di Bali, pengetahuan sejarah Bali sangat penting.
"Di sini ada anak asli daerah juga dan ada dari luar. Nanti akan bertugas untuk meliput berita di Bali, paling tidak mengetahui sejarah Bali," ucapnya.